UGM

Universitas Gadjah Mada

Ilmu pengetahuan diyakini mampu meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Penguasaan dan pemanfaatan merupakan peluang dan tantangan yang memerlukan tanggapan cepat dan strategis. Dalam hal ini, Universitas Gadjah Mada berperan sebagai kekuatan intelektual bagi lahirnya masyarakat baru yang berbasis pengetahuan.

1.         Universitas Gadjah Mada sebagai Universitas Perjuangan

Berdirinya Universitas Gadjah Mada merupakan akumulasi pemikiran intelektual para pemimpin bangsa Indonesia pada masa perjuangan. Nama-nama pemikir dan pendiri Universitas Gadjah Mada antara lain: Ki Hadjar Dewantara, Sultan Hamengkubuwono IX, Pakualam VIII, Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Budiarto, Mr. Sunaryo, Dr. Priyono, Prof. Sardjito, Prof. Yohannes, Prof. Ir. Rooseno, Prof. Gunarso, Prof. Suwandi, Prof. Sunaryo, Sutan Mohtar Abidin, Ir. Haryono Danusastro, Drs. Suparwi, Ir. Wreksodiningrat, Sarwidi Mangunsarkoro, dan masih banyak lagi tokoh intelektual yang juga pejuang nasional pendiri Universitas Gadjah Mada.

Dari sisi historis, dapat diyakini bahwa Universitas Gadjah Mada lahir pada masa perjuangan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Universitas Gadjah Mada didirikan oleh para pejuang republik, dan didirikan dikota perjuangan. Para pendiri, dosen dan juga mahasiswa pada masa awal Universitas Gadjah Mada adalah pejuang-pejuang yang selain berjuang dengan senjata, juga berjuang dengan ilmu. Sehingga tak heran jika pada masa itu, mahasiswa dan dosen ketika masa belajar dan ujian kadang membawa senjata dalam kelas, karena pada waktu itu memang masa perang dan mereka ikut memanggul senjata melawan Belanda.

Universitas Gadjah Mada sebagai universitas perjuangan juga terdapat dalam logo songkok dan tombak pada lambang UGM. Songkok dan tombak merupakan simbol yang melambangkan sifat kepahlawanan dan kejuangan Universitas yang selalu siap sedia dan waspada.

Perjuangan bukanlah hal yang mudah, memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit baik fisik maupun mental, dan hal tersebut bukanlah hal yang sepele. Namun, pada saat ini hanya segelintir mahasiswa yang mampu memahami makna UGM sebagai Universitas perjuangan secara mendalam. Oleh karena itu hendaknya UGM dapat lebih menanamkan makna perjuangan dalam diri mahasiswa.

2.         Universitas Gadjah Mada sebagai universitas Pancasila

Universitas Gadjah Mada sebagai universitas Pancasila terlihat dari lambang UGM. Dimana ada 6 lambang yaitu:

a.   Surya dengan sinarnya dan kartika bersegi lima berwarna kuning emas melambangkan universitas sebagai universitas Pancasila. Lembaga Nasional ilmu pengetahuan dan kebudayaan bagi pendidikan tinggi berdasarkan Pancasila, yang memancarkan ilmu pengetahuan, kenyataan, dan kebajikan.

b.   Titik Pusat lambang berupa matahari berlubang atau disebut surya binolong. Kata surya mengandung makna angka ”sembilan” sehingga bentuk surya binolong atau matahari berlubang ialah angka 19. setiap kesatuan kumpulan sinar pun terdiri atas sembilan belas sort sinar, yang mengandung makna 19 juga. Angka 19 adalah lambang tanggal pendirian Universitas.

c.   Dua bentuk lingkaran yang tersusun yang melingkari lubang titik pusat lambang di dalam lima kesatuan kumpulan sinar surya berbentuk bintang bersegi lima, serupa surya kembar di dalam kartika atau bintang. Kartika mengandung makna satu dan surya kembar mengandung makna angka dua sehingga bentuk kartika surya kembar itu mengandung makna angka satu dan dua. Angka 12 adalah lambang bulan Desember, bulan pendirian Universitas.

d.   Songkok dan tombak, melambangkan sifat kepahlawaan dan kejuangan. Keseluruhannya diresapi oleh Pancasila sehingga kesemuanya itu melambangkan sifat Universitas Gadjah Mada sebagai momen perjuangan nasional berdasarkan Pancasila.

e.   Kesatuan kumpulan sinar, segi kartika, songkok dan tombak, masing-masing berjumlah lima. Kesemuanya melambangkan Pancasila sebagai Universitas yang memiliki dasar, sifat, tujuan dan hakikat pahlawan serta perjuangan nasional demi Pancasila.

Penyebutan dan pengulangan Pancasila dalam mukadimah/Pembukaan Statuta UGM juga melambangkannya sebagai Universitas Pancasila dan terbukti dalam sejarah bahwa Universitas Gadjah Mada berperan dalam mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai Pancasila.

Pancasila terdiri atas 5 pondasi yang kokoh, yaitu ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Semua mahasiswa baik mahasiswa UGM maupun yang bukan dari lingkup UGM tahu dan hafal 5 pondasi tersebut. Lalu bagaimana dengan praktek dalam kehidupan nyata? Inilah salah satu tugas penting dari UGM yang perlu diperhatikan lagi. Hendaknya UGM dapat lebih memperhatikan hal tersebut.

3.         Universitas Gadjah Mada sebagai Universitas Nasional

Berdasarkan histori dapat diketahui bahwa pada masa awal berdirinya Universitas Gadjah Mada sudah ada beberapa perguruan tinggi lain. Namun hanya satu yang benar-benar didirikan oleh Pemerintah Indonesia, dan sebagai Universitas Negeri Nasional (nama UGM dulu UNGM), dimana yang sudah berdiri barulah akademi, sekolah tinggi, balai pendidikan, atau balai perguruan. Universitas Negeri Nasional pada masa itu belum ada.

Mahasiswa yang menuntut ilmu di Universitas Gadjah Mada juga menunjukkan bahwa UGM mampu mempersatukan mereka sebagian besar berasal dari luar Yogyakarta dengan beragam suku dalam satu wadah tanpa membeda-bedakan. Hal ini tentunya sangat penting karena saat ini adalah masa dimana SARA merupakan hal yang teramat sangat sensitif untuk sebagian besar masyarakat. Namun hal ini tidak terjadi di UGM, semua baik mahasiswa, dosen maupun staff yang lain mampu menempatkan diri tanpa membedakan asal dan adat. Hal ini pula yang mampu menunjukkan bahwa universitas UGM adalah Universitas Nasional.

Suatu universitas akan dilihat dari produk-produknya. Produk dari universitas tentunya adalah mahasiswa-mahasiswa itu sendiri. Dari sisi historis, dapat dipastikan bahwa UGM adalah universitas Nasional. Namun bagaimanakan dengan mahasiswanya sendiri? Apakah mahasiswa UGM memiliki jiwa nasionalisme yang cukup kuat? Tentunya hal ini tidak lepas dari peran universitas. Sehingga hendaknya universitas dapat ikut memperkuat dan mengembangkan jiwa-jiwa nasionalisme dalam diri mahasiswa-mahasiswanya.

4.         Universitas Gadjah Mada sebagai Universitas Kerakyatan.

Universitas Gadjah Mada dikenal sebagai universitas yang merakyat, dalam artian mampu menangkap denyut jantung dan denyut nadi kehidupan rakyat. Artinya problematik yang sedang dihadapi rakyat mampu ditangkap, diartikulasikan dan diperjuangkan oleh UGM. Berbagai program UGM yang diapresiasikan sangat merakyat, antara lain PTM (Pengiriman Tenaga Mahasiswa) yang menjadi guru relawan di berbagai pelosok Indonesia dan saat ini program tersebut dikembangkan menjadi program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Namun dalam prakteknya, rakyat di pedesaan pada umumnya tidak hanya membutuhkan tenaga tetapi juga materiil dan lain-lain. Sehingga hendaknya dalam berjalannya program-program UGM yang lain yang juga bersifat kerakyatan, dapat lebih membantu kehidupan masyarakat Indonesia. Sehingga bantuan dapat lebih mengena pada apa yang dibutuhkan masyarakat.

5.         Universitas Gadjah Mada sebagai Universitas Kebudayaan.

Universitas Gadjah Mada juga berperan sebagai universitas kebudayaan. Dengan kemandiriannya, UGM meningkatkan perannya sebagai kekuatan penting dalam mengembangkan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan dan kebudayaan serta kepakaran (scholars) di Indonesia dan Asia Tenggara. Hal ini sesuai dengan visi pembangunan DIY 2020. Program-program UGM dikembangkan melalui wawasan dunia dan menggali kekayaan budaya serta peran masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya. Dengan program tersebut dapat dihasilkan ilmu pengetahuan, teknologi, seni serta nilai budaya yang didasarkan pada nilai-nilai tinggi yang didasarkan pada nilai-nilai tinggi sebagai bagian dari reaktualisasi kekayaan ragam budaya dan kearifan lokal. Dengan demikian, UGM akan mampu membentuk masyarakat masa depan yang toleran dalam keragaman yang damai, serta adil dan beradab.

Keberadaan sebuah pusat kebudayaan sangat diperlukan untuk sebuah universitas sebesar UGM. Seperti diketahui, sejak 3 Maret 2007, UGM secara resmi memiliki sebuah Pusat Kebudayaan. Lalu pada 14 April 2007, Prof. Dr. Sofian Effendi, MPIA selaku Rektor UGM, secara resmi menamakan pusat kebudayaan yang berlokasi di eks gedung Purna Budaya, sebagai Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri. Hal ini merupakan bentuk penghormatan UGM terhadap alm. Prof. Dr. Koesnadi Hardjasoemantri, mantan Rektor UGM, yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh kebudayaan Indonesia.

Hendaknya dengan berdirinya Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM dapat lebih mengembangkan perannya dalam pengembangan kebudayaan baik lokal, nasional, maupun dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: